Friday, December 26, 2008

The End of this Year - 2008

Uhmm...
Engga terasa sepertinya tahun ini akan segera berganti. Banyak hal yang telah terjadi pada diriku di tahun ini. Banyak sekali peristiwa dari awal tahun sampai akhir tahun yang benar-benar membuat aku berkesan. Kesan baik ataupun buruk tentunya.

Well...
Just wanna say good bye to all bad experieces and hope won't be happen again for next year. And of course all good things will be happen for next year.

Inggih..
mugi mugi tahun ngajeng meniko saget dados taun ingkang sae kagem kulo dan sedherek-sedherek sedoyo. Monggo kito sami sami mirsani awakipun piyambak-piyambam mugi mugi saget dados tiyang ingkang tambah sae. Amin

Welcome 2009...here i come !

*I'll jump into the beach again :D

Saturday, November 08, 2008

Titik Nol

Long time no see... long see no time..

Sepertinya aku harus menetapkan "Titik NOL" lagi. Apakah itu ?

1. Titik nol kesukaanku adalah "Halaman Museum Fatahillah di Kota Tua Jakarta". Perjalanan untuk backpacking yang sekarang mulai aku jalani kembali.

2. Lebaran, adalah titik nol mutlak-ku. Untuk me-reset semua yang telah terjadi.

3. Blog ini, titik nol lagi untuk aktif menulis (semoga :P)

Wednesday, January 24, 2007

Aroma laut pagi itu

Kopi panas baru saja diseduh dan masih mengepulkan asap-asap putihnya yang halus dengan diiringi aroma kental kopi pahit yang menusuk hidung. Puntung rokok juga masih menyala di sela-sela genggaman jari telunjuk dan jari tengah menyisakan cahaya merah padam yang tertutupi oleh butiran-butiran abu yang siap meruntuhkan bagian-bagiannya ke atas tangan. Deru ombak terdengar mengalun kecil dengan diiringi buih-buih putih yang memecah ditepian pasir putih menyingirkan tiap butiran-butiran dengan sentuhan kasarnya. Sebentar kutiup kopi panas dalam gelas plastic berwarna biru muda sembari kuisap asap-asap tembakau yang akan selalu menggerogoti paru-paru. Selalu !

Saat dua jam yang lalu cerita ini diawali. Dua jam lamanya kubutuhkan waktu untuk menempuh perjalanan dari rumah Emak di Dempok untuk menuju ke tepian Panti Bantol. Subuh, saat mentari belum menyibak malam, saat ayam mulai berkokok, saat beberapa warga kampong sedang memperiapkan dirinya menuju surau kecil dan mereka mensucikan tubuhnya dengan air wudlu, aku mulai bergerak menyusuri jalan desa yang dipenuhi dengan batu kapur berwarna putih dan debu-debu kecil yang mengotori sandal gunung usangku. Iroel, sahabatku yang sering kali melakukan perjalanan solo, menemaniku pagi itu sejak kemarin sore. Dengan selera rokok yang sama, kita saling mengumbar asap tembakau sepanjang perjalanan sambil sesekali mengobrol kesana-kemari tak mempedulikan peluh yang mulai mengucur dari tubuh kami yang dekil.

Pukul 05.30 saat mentari mulai menyentuhkan sinarnya ke raut muka kami, terasa hangat menyentuh kulit dan mulai mengkilatkan keringat yang sedari tadi mengucur melalui pori-pori kulit. Jelek memang penampilan kami pagi itu. Tapi, cuek saja lah. Toh hanya kita berdua yang menertawai diri masing-masing dengan tampilan dekil itu.

Sesaat aku mulai membakar kayu-kayu lapuk yang berserakan di samping camp para pencari rumput laut dan mulai menancapkan pantat nesting aluminium ke atas bara api yang mulai membesar. Riuh suara perut yang melantunkan lagu-lagu cacing kelaparan menjadi guyonan kecil pagi itu. Cukup mie instant saja untuk membereskan kegaduhan dalam perut kami dan melanjutkan menikmati aroma laut yang asin dan kental. Tanpa terlupakan rokok yang siap kulumat asapnya di dalam mulut dan kumuntahkan kembali untuk melepas rasa yang memuakkan ini. Tapi, pagi ini terasa berbeda dengan suasana laut yang telah lama tak kuhirup udara khasnya.

Ombak kecil menyapa kaki dekilku dan meninggalkan lekat-lekat garam yang bercampur dengan keringat kering ditiap ujung jariku. Damai sesaat kurasakan, melepaskan energi negative dalam otak yang berkecamuk beberapa hari belakangan. Entah kenapa sebabnya dan tak mau kubicarakan sebabnya dengan siapapun. Cukup tubuh kecil ini yang menahan semuanya. Kutersadar saat kutu-kutu pasir mulai menikmati kulit kakiku dengan beringasnya dan meninggalkan jejak-jejak bentol menghiasi tiap centi kulitku. Sebel. (ingat kata di extravaganza “capek deeeyy….’ Sambil mengayunkan tangan ke atas dahi dengan mimik wajah yang menyebalkan).

Obrolan kecil dengan para pencari rumput laut yang baru saja kembali dengan membawa karung-karung kecil dalam kondisi kebasahan sekujur tubuh, menemani kami berdua menikmati kacang dan kopi untuk putaran kedua. Tak banyak yang kami bicarakan dengan mereka selain basa-basi dan perkenalan semata. Semoga mereka masih mengingat wajah kusam kita berdua pagi itu. Kami bertukar lintingan tembakau mereka dengan rokok yang kami bawa. Berkesan memang meski hanya sesaat mengenal mereka melalui obrolan singkat pagi itu.

Pukul 09.30, cepat berlalu waktunya, terpaksa kami harus meninggalkan Pantai Bantol dan membayangkan perjalanan yang mungkin mengesalkan kaki kita berdua. Pamitan dan basa-basi, sebuah ritual yang kerap kali dilakukan, harus kami lakukan dengan para pencari rumput laut tersebut. Kulangkahkan kaki meninggalkan jejak-jejak sandal di atas pasir putih yang kasar itu dan mungkin nanti akan dihapus ombak saat air mulai pasang. Hanya itulah yang kami tinggalkan pagi itu di Pantai Bantol.

Monday, December 25, 2006

iseng ...

Ancene iseng ae....

Saturday, September 02, 2006

Pudarnya Cahaya Cleopatra

Tulisan ini saya ambil dari milis. Bagus banget.
Saya coba cari buku-nya tapi masih belum dapat. Mungkin kalo ada teman yang tahu dimana dapetinnya, mohon kirim info yah...:D

==========================
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalam kandungan aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu" kata ibu.

"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu", ucap beliau dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan diriku.

Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.

Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya. Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.

Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja. Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama, karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil 'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam" jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad nikah?Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini".Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al Quran dengan khusyu.

Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias berlian.Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra." Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe. Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!" sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?". Hana begitu bahagia.Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. " Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat.

Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. " Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera.

Sejak itu aku semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan segalanya. Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.

Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku melakukan langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi?". "Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.

Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin. Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi. Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut.

Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir". Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang".Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya.

Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal.

Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuatsurat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini suratcinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-janganistriku serong??Dengan rasa takut kubaca surat itusatu persatu. Dan Rabbi?쫡ernyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yangluar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya. Dan betapadia ingin hadirnya cinta sejati dariku."Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karenakarunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi,curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba??^??tulis Raihana.Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa" Ya Allah inilahhamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa inikehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Muini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapabegitu tega suami hamba tak mempedulikanku danmenelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hambapadanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masihkurang apa baktiku padanya? Ya Allah, jika memangmasih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu inicara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkaidia karena kelalaiannya. Cukup hamba saja yangmenderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hambamasih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hambakekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. YaAllah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangatmencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta inikepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia denganteguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini.Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, MahaSuci Engkau".Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak.

Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang.Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan danpengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yanglembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku,semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dancinta. Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yangturun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketikaitu pesona Cleopatra telah memudar berganti cintaRaihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cintapada Raihan tiba-tiba begitu kuat mengakar dalamhatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata.Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejarwaktu untuk membagi cintaku dengan Raihana. Kukebutkendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air matakuyang menetes sepanjang jalan.

Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Meliha tkedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya menangis dan menangis.Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah terjadi."Raihana? 'strimu..istrimu dan anakmu yangdikandungnya". " Ada apa dengan dia". " Dia telahtiada". " Ibu berkata apa!". " Istrimu telah meninggalseminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kamimembawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidakselamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu. Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya". Hatiku bergetar hebat. "Ke..?Kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". " KetikaRaihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidakmengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi maafkanlah kami".Aku menangis tersedu-sedu.

Hatiku pilu. Jiwaku remuk.Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia telah tiada.Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru di kuburan pinggir desa. Diatas gundukan ituada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta,haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku inginRaihana hidup kembali.

Monday, August 28, 2006

Rindu rasa batuk seperti kemarin

Aneh memang, setiap manusia diberikan sakit pasti akan selalu mengeluh. Apapun bentuknya karena yang namanya sakit pasti tidaklah enak.
Pagi ini aku sadar bahwa tidak semua sakit ternyata tidak enak. Sesaat aku juga berfikir alangkah senangnya bisa merasakan batuk yang sempat beberapa hari dalam minggu kemarin selalu menemani hari-hari. Yah….maklum karena flu berat.
Mungkin minggu kemarin aku sempat berfikir, “sialan bener flu…kok gak sembuh-sembuh sih..”. Semacam itu lah. Tapi sekarang, aku harus mengakui, meski sesaat, aku merindukan rasa batuk yang seperti kemarin.


Kenapa?

Sekarang untuk batuk saja aku harus menahan, jika terpaksa keluar, hanya rasa sakit di tulang pinggul yang terasa menjadi. Yah…karena baru hari kamis kemarin aku mengalami kecelakaan dari tunggangan motor tempurku. Masih bersyukur aku menderita hanya luka memar sedikit, tetapi tulang pinggulku sempat menghantam kerasnya aspal hitam. Duh….sakitnya masih terasa. Itulah kenapa tiap kali batuk aku harus memegang erat perutku, karena sakitnya …ampuunn….

Tapi memang yang paling enak tuh yah…kita gak dikasih sakit. Jadi kita tidak akan mengeluh tentang kondisi tubuh ini. Tapi yang namanya manusia, katanya, sumbernya keluhan memang.

Yah…..semoga beberapa hari lagi bisa sembuh total. ami
nnn

Monday, August 07, 2006

Am i soloist ?



1 Agustus 2006
Saat hawa dingin masih menusuk tulang dan rasa kantuk setelah mata dan otak berkerja hamper lebih dari 24 jam, kupaksakan kakiku melangkah membelah bentangan kebun the yang hijau dengan embun-embun pagi yang masih mengumpul di ujung-ujung pucuk daun siap untuk menyilaukan sinarnya saat mentari pagi menerpa nanti. Uap air yang keluar dari setiap hembusan nafas dan pori tubuh semakin membuat tubuh yang kecil ini terasa tersiksa. Tanpa kalori tambahan pagi ini, terasa jalan menjadi sangat berat.


Qtr. 05.15, nuansa romantis yang terpancar dari matahari yang baru terbit menjadi satu-satunya hiburanku pagi itu. Istirahat sejenak sambil menyandarkan bahu dan punggun pada sebuah tiang kayu di tengah luasnya kebun the ini, seakan memberikan sedikit pemulihan akan kelelahan yang mulai merasuk dalam otot-otot. Setegak air putih membasahi kerongkongan yang mulai terasa kering karena air liur yang mengental membuat aku sedari tadi batuk.

Pendakian seorang diri ini memang terlalu beresiko dan aku mengakui ini bukanlah cara yang aman. Tapi aku punya satu tujuan yang mungkin dengan cara ini menjadi satu pendakian yang pantas menurut aku. Untuk menuntaskan tujuanku itu. Mencapai puncak arjuno dalam waktu yang sesingkat mungkin tanpa back up personal lain. Artinya aku mulai belajar mendaki solo (solo climbing).
Qtr. 07.00, sabana yang luas ini dengan hangatnya mentari pagi dan otot yang telah lelah kembali memaksa aku harus beristirahat. Dua potong roti dan segelas air putih yang dingin menjadi menu utama pagi itu. Meski aku tahu perut tidak bisa dibohongi, tapi aku juga tahu bahwa bahan makanan yang aku bawa telah mencukupi kebutuhan tubuhku akan kalori untuk hari itu. Terlihat medan terjal yang siap menyergap langkah kaki di sebelah sana, scrambling hamper 50-70 derajad setinggi kurang lebih 200 meter. Napas dalam menyertai saat aku melihat jalur itu. Jalur yang telah sering aku lewati dan aku tidak pernah suka dengan jalur ini. Zig-zag route.

Qtr. 8.30, akhirnya aku menyelesaikan rute yang cukup melelahkan ini. Dengan panorama yang sangat indah dan hangatnya matahari pagi, aku mencoba menghibur diriku dengan mencoba mengabadikan beberapa pemandangan dan momen dalam frame-frame foto. Sembari memandang ke atas dan menerima kenyataan masih ada jalur yang terjal lagi di depan. Dari tempatku, puncak Lincing (1900 mdpl) aku dapat melihat dengan jelas bendera merah putih yang berkibar di ujung punggungan utara, menandakan lokasi Candi Wesi yang sekitar 4 bulan yang lalu pernah aku singgahi. Sungguh pagi yang menyenangkan.

Qtr. 11.30, Mahapena menyisakan kekesalan sedikit dengan kondisi shelter yang sudha hancur. Sejenak kuistirahat untuk melepaskan kelelahan dan mencoba menghubungi teman melalui ponsel. Tetapi sial, kartu yang tertancap dalam ponsel mendadak rusak. Akhirnya kuputuskan aku untuk meneruskan, dengan satu harapan akan mendapat sesuatu yang lebih bagus dan menyenangkan di atas sana.

Qtr. 14.30, Sheler 4 kembali menyisakan kekesalan yang sama. Itulah batas kemampuanku hari itu. Dengan jepretan dari kamera EOS 1000 yang aku bawa serta roti dan biscuit serta rokok menjadi hal yang sedikit menghiburku. Tujuanku memang hari itu tidak tercapai. Hanya lelah yang aku rasakan. Tetapi bagiku, itu bukanlah satu kegagalan atau kerugian. Aku belajar mengenali kemampuan diriku, meski hanya melalui fisik saja. Solo climbing memang bukan hal yang aman untuk dilakukan, tapi bagi aku itu adalah cara yang pantas untuk mencapai tujuanku sesuai dengan standarku. Sebuah bentuk petualangan dalam kesendirian dan kesepian secara fisik dan mental.


Hidup di cerita pagi buta

7 agustus 2006, qtr. 5.13 AM

Hidup adalah karunia paling besar yang dianugerahkan oleh Yang Maha Kuasa. Apapun bentuknya, itu tidak dapat disamai oleh tiap karya dari orang sejenius apapun. Hidup terkadang akan banyak berbalik, tidak memperdulikan waktu dan tempat, seperti yang sering ditulis dalam horoskop di koran ataupun di situs-situs. Kadang kita ada di bawah, kadang kita ada di atas. Itulah yang membuat hidup kita penuh warna.


Ada satu hal kadang yang membuat aku heran. Kenapa orang sering kali, tapi tidak semua orang sih, selalu memperhatikan hidup orang lain. Sedangkan hidupnya sendiri tidak dia koreksi ataupun evaluasi sendiri. Memang lebih enak melihat barang yang ada di depan mata daripada yang ada di dalam diri kita sendiri sih. Aku jadi ingat tempo hari saat membaca kiriman email dari teman di mailing list, sebuah filosofi tentang kehidupan kepiting. Intinya gini, bagaimanapun pandainya gerombolan kepiting melepaskan diri dari sebuah ember, tak akan ada satupun yang berhasil meloloskan diri. Kenapa ? karena setiap kali satu kepiting akan naik, maka kepiting yang lain akan selalu berusaha menjapit temannya itu sehingga bagaimanapun kerasnya usaha yang dilakukan, tidak akan pernah berhasil untuk lolos.

Yah….orang kadang akan menarik napas dalam sambil berkata “ itulah hidup nak”. Nada suara seperti ini yang terkadang aku juga mengucapkannya, tanpa sadar bahwa dia sudah merasa banyak mengenyam pahit manisnya hidup. Padahal tidak. Itu adalah ungkapan yang lazim kita ungkapkan ketika kita sudah kehilangan ide untuk berkata lagi. Senjata terakhir, orang bilang gitu. Tapi kalo dipikir ternyata manjur juga.

Orang se-umuran kita ini, yang menjelang dewasa meninggalkan masa remaja, banyak sekali pikiran-pikiran tentang hidup. Maksudnya, dia akan merasa bahwa dia telah memiliki sesuatu yang sangat berarti dalam belajar mengarungi kehidupannya. Did you know what, menurut aku itu adalah omong kosong. Sebenarnya kita ini yang malah akan mulai menjalankan hidup keras yang sebenarnya. Taruhlah contoh orang yang baru lulus dari jenjang pendidikan dan baru mulai merasakan rasanya masuk dunia kerja. Suatu saat dalam beberapa bulan saja dia akan mengatakan, kerja itu bikin capek. Padahal menurut aku dia itu belum tahu apa artinya kerja. Belum tahu bagaimana susahnya mencari makan sendiri saat dia harus dihadapkan pada kenyataan yang paling sulit dan sengsara. Menilai uang 1 juta bukan apa-apa, atau menilai kesuksesan temannya dari merk HP apa yang dia miliki sekarang. Itukah yang dibanggakan oleh orang-orang seperti ini?

Mungkin ini adalah satu kelemahanku dalam menilai seseorang, yang kadang kurang suka dengan hal-hal yang terlalu di-hiperbolik-kan.

Hidup dan perasaan adalah satu kesatuan. Tanpa perasaan, hidup akan berasa hambar tanpa rasa. Terkadang kita hanya menjustifikasikan satu bentuk perasaan kepada satu bentuk objek saja. Dan kita tidak usah memungkiri hal ini. Contohnya, ketika anda ditanya “siapa yang anda cintai ?”. saya yakin banyak yang akan menjawab, “kekasih, pacar, ujub”, apalagi saat dia sedang dimabuk asmara. Nah tuh…

Kita kurang peka terhadap sesuatu yang ada disekitar kita karena kita terlalu konsentrasi pada satu hal yang sebenarnya dapat kita tangani. Itulah yang terkadang membuat seseorang menjadi sempit pandangan ketika dia harus konsentrasi pada satu hal. Dan itu adalah salah satu kelemahan manusia. Cinta, saying, kasih terkadang hanya diwujudkan pada seseorang dengan jenis kelamin yang berbeda dan dirasa special oleh orang itu. Gak usah mungkir deh..

Bagi aku, itu adalah bentuk wujud universal akan perasaan kita terhadap sesuatu atau seseorang. Yang artinya antara hidup dan perasaan kita, ada satu hubungan yang berjalan dan kita jalankan.
Nah…the last words. Berbahagialah jika kita semua saling memiliki cinta, kasih dan saying meski kita tidak tahu apakah kita dicintai, dikasihi atau disayangi oleh sesuatu atau seseorang.
Karena dengan itu kita bisa hidup dan berarti sebagai seorang makhluk ciptaan-Nya.