Kopi panas baru saja diseduh dan masih mengepulkan asap-asap putihnya yang halus dengan diiringi aroma kental kopi pahit yang menusuk hidung. Puntung rokok juga masih menyala di sela-sela genggaman jari telunjuk dan jari tengah menyisakan cahaya merah padam yang tertutupi oleh butiran-butiran abu yang siap meruntuhkan bagian-bagiannya ke atas tangan. Deru ombak terdengar mengalun kecil dengan diiringi buih-buih putih yang memecah ditepian pasir putih menyingirkan tiap butiran-butiran dengan sentuhan kasarnya. Sebentar kutiup kopi panas dalam gelas plastic berwarna biru muda sembari kuisap asap-asap tembakau yang akan selalu menggerogoti paru-paru. Selalu !
Saat dua jam yang lalu cerita ini diawali. Dua jam lamanya kubutuhkan waktu untuk menempuh perjalanan dari rumah Emak di Dempok untuk menuju ke tepian Panti Bantol. Subuh, saat mentari belum menyibak malam, saat ayam mulai berkokok, saat beberapa warga kampong sedang memperiapkan dirinya menuju surau kecil dan mereka mensucikan tubuhnya dengan air wudlu, aku mulai bergerak menyusuri jalan desa yang dipenuhi dengan batu kapur berwarna putih dan debu-debu kecil yang mengotori sandal gunung usangku. Iroel, sahabatku yang sering kali melakukan perjalanan solo, menemaniku pagi itu sejak kemarin sore. Dengan selera rokok yang sama, kita saling mengumbar asap tembakau sepanjang perjalanan sambil sesekali mengobrol kesana-kemari tak mempedulikan peluh yang mulai mengucur dari tubuh kami yang dekil.
Pukul 05.30 saat mentari mulai menyentuhkan sinarnya ke raut muka kami, terasa hangat menyentuh kulit dan mulai mengkilatkan keringat yang sedari tadi mengucur melalui pori-pori kulit. Jelek memang penampilan kami pagi itu. Tapi, cuek saja lah. Toh hanya kita berdua yang menertawai diri masing-masing dengan tampilan dekil itu.
Sesaat aku mulai membakar kayu-kayu lapuk yang berserakan di samping camp para pencari rumput laut dan mulai menancapkan pantat nesting aluminium ke atas bara api yang mulai membesar. Riuh suara perut yang melantunkan lagu-lagu cacing kelaparan menjadi guyonan kecil pagi itu. Cukup mie instant saja untuk membereskan kegaduhan dalam perut kami dan melanjutkan menikmati aroma laut yang asin dan kental. Tanpa terlupakan rokok yang siap kulumat asapnya di dalam mulut dan kumuntahkan kembali untuk melepas rasa yang memuakkan ini. Tapi, pagi ini terasa berbeda dengan suasana laut yang telah lama tak kuhirup udara khasnya.
Ombak kecil menyapa kaki dekilku dan meninggalkan lekat-lekat garam yang bercampur dengan keringat kering ditiap ujung jariku. Damai sesaat kurasakan, melepaskan energi negative dalam otak yang berkecamuk beberapa hari belakangan. Entah kenapa sebabnya dan tak mau kubicarakan sebabnya dengan siapapun. Cukup tubuh kecil ini yang menahan semuanya. Kutersadar saat kutu-kutu pasir mulai menikmati kulit kakiku dengan beringasnya dan meninggalkan jejak-jejak bentol menghiasi tiap centi kulitku. Sebel. (ingat kata di extravaganza “capek deeeyy….’ Sambil mengayunkan tangan ke atas dahi dengan mimik wajah yang menyebalkan).
Obrolan kecil dengan para pencari rumput laut yang baru saja kembali dengan membawa karung-karung kecil dalam kondisi kebasahan sekujur tubuh, menemani kami berdua menikmati kacang dan kopi untuk putaran kedua. Tak banyak yang kami bicarakan dengan mereka selain basa-basi dan perkenalan semata. Semoga mereka masih mengingat wajah kusam kita berdua pagi itu. Kami bertukar lintingan tembakau mereka dengan rokok yang kami bawa. Berkesan memang meski hanya sesaat mengenal mereka melalui obrolan singkat pagi itu.
Pukul 09.30, cepat berlalu waktunya, terpaksa kami harus meninggalkan Pantai Bantol dan membayangkan perjalanan yang mungkin mengesalkan kaki kita berdua. Pamitan dan basa-basi, sebuah ritual yang kerap kali dilakukan, harus kami lakukan dengan para pencari rumput laut tersebut. Kulangkahkan kaki meninggalkan jejak-jejak sandal di atas pasir putih yang kasar itu dan mungkin nanti akan dihapus ombak saat air mulai pasang. Hanya itulah yang kami tinggalkan pagi itu di Pantai Bantol.