Wednesday, August 31, 2005

Cadas Hitam Tebing Sumbing Gunung Kelud



Pagi itu terasa dingin sekali karena semalam masih menyisakan titik-titik air setelah seharian hujan terus di camp kami. Di kaki Tebing Sumbing, Gajah Mungkur (Gunung Kelud), 5 hari menjelang lebaran tahun 2003, pemanjatan hari pertama kami hanya memperoleh jalur 30 meter saja. Jauh dari target kami yaitu 75 meter jalur. Hujan yang turun sejak pukul 14.oo siang itu menghambat jalan kami untuk terus merayapi dinding tebing cadas yang hitam mulus dan dingin itu. 4 buah Pyton dan beberapa sling dan prusik aku tambatkan di pitch terakhir untuk jalur tapi statik kami esok. Hari itu kami menggunakan sistem pemanjatan himalayan style, dengan menambatkan anchor untuk jalur tali statik untuk digunakan saat esok tim melanjutkan pemanjatan menuju pitch terakhir tadi melalui jumaring.

Tenda
dome masih basah oleh air hujan kemarin sore dan butiran embun pagi serta sayup-sayup terdengar kicauan burung-burung pagi yang setia menemani kami untuk menyiapkan peralatan panjat dan logistik untuk alpine malam ini. Dari posisi camp, kita bisa melihat kawah Gunung Kelud yang kebiruan memantulkan sinar berkilauan saat terkena cahaya dan aroma belerang yang lembut sesekali tercium oleh indera kami pagi itu. Di sudut timur tebing terlihat tanah yang mengeluarkan asap-asap belerang tipis yang melewati celah-celah kecil diatara retakan tanah yang ditumbuhi oleh rumput-rumput liar dan pohon perdu. Indah sekali pagi itu, meski beberapa tim termasuk saya harus tetap menunaikan kewajiban berpuasa Ramadhan yang sudah memasuki minggu akhir.

Langkah kecil kami mengantarkan 5 orang, Rudolph, Eko, Romi, Lukman dan aku sendiri menuju ke titik
start kemarin untuk jumaring ke atas menuju ke pitch 1. Bunyi gemerincing alat yang tergantung di seat harness semakin menambah suasana ramai pagi itu. Kabut pagi mulai bergeser menutupi puncak tebing, dan pemanjatan pun dimulai untuk hari kedua.


Cukup berat juga medannya, karena beberapa jalur banyak yang slap. Otak harus kita putar untuk mengakali pemasangan pengaman karena rimbunnya jalur yang kami buka itu. Hari ini Eko sebagai
leader dan aku sebagai belayer, sementara 3 rekan yang lain sebagai rescuer dan fotografer.

Pukul 14.00 aku dan Eko sudah menghabiskan 50 meter jalur dan segera memasang
anchor untuk digunakan 3 orang naik menuju posisi kami. Berat juga memang, karena seharian tidak meneguk satu pun tetesan air. Mungkin Tuhan memberikan anugerah kepada kami hari itu karena cuaca cerah dan tidak panas sama sekali. Angin semilir semakin menambah kesejukan di antara rekahan batu cadas yang menjadi teman main kami. Kawah Kelud pun semakin terlihat indah dari atas sini.

Hari itu pemanjatan diakhiri dengan berbuka puasa di
pitch 2 dan alpine di situ. Sungguh buka puasa yang luar biasa bagi tim kami. Dengan omelet dan roti isi coklat racikan mbak Yuli, kami melahap semua makanan itu dan menyisakan untuk makan sahur nanti. Meski kopi hangat yang kami dambakan tak mungkin untuk diteguk dan harus digantikan air putih yang kami bawa dalam jurigen 10 liter, santap buka terasa nikmat sekali. Kami menyelimuti seluruh tubuh kami dengan pakaian hangat dan tetap memakai perlengkapan kami di pitch itu untuk persiapan istirahat. Tapi ternyata mata susah terpejam. Kerlip lampu dari kota Kediri dan Blitar terlihat jelas dan sangat indah dengan latar belakang Gunung Wilis yang terlihat samar ditutupi awan tipis dan cahaya rembulan yang terang menyoroti indahnya alam. Dinginnya malam yang menusuk tulang mulai terasa menjelang dini hari, karena posisi kita memang sudah lebih dari 1300 mdpl.

Pagi itu kami terbangun dengan bibir dan mulut yang terasa tebal karena dinginnya malam dan santapan coklat batangan saat sahur tadi. Dan kami mulai bersiap-siap untuk melakukan
summit attack hari itu juga dengan posisi leader Rudolph dan belayer Lukman. Perlahan kedua pemanjat merayap diantara retakan-retakan tebing untuk menancapkan pengaman mereka. Ternyata medan yang kami hadapi cukup berat, karena pada satu titik kedua pemanjat terjebak dengan tebing yang slab tanpa cacat sedikitpun dan pengaman yang mungkin adalah sebatang pohon kecil diatas mereka yang berjarak kurang lebih 2.5 meter.

Pukul 13.00 siang itu, kedua pemanjat sudah beranjak menuju ke
tower 2 setelah berhasil melewati satu rintangan tadi. Tower 1 sudah terlihat jelas oleh kedua pemanjat, sementara aku, Eko dan Romi menunggu di pitch 3 sebagai rescuer. Pukul 15.00, terdengar teriakan "puncak" yang sesaat membangunkan kami bertiga dari lamunan menunggu kedua pemanjat untuk memberikan isyarat. Sore itu pemanjatan kami berhasil menuju ke puncak Tebing Sumbing melalui jalur barat. Meski seluruh anggota tim tidak dapat mencicipi indahnya kemenangan menuju ke tower 1, tetapi jiwa kerjasama kami yang bisa membuat pemanjatan ini berhasil menggapai target.

Sore itu juga kami turun menuju ke
camp, meski harus melakukan rapelling malam. Kami juga menyiapkan perlengkapan darurat untuk rapelling malam karena memang sudah kami perkirakan di awal. Hanya nyanyian syukur dan raut muka yang berseri terlihat saat kami menuju ke camp untuk menikmati santap buka kami.

Saat melakukan aktivitas di alam bebas, jadikan alam sebagai sahabat kita, karena kita tidak mungkin bisa menaklukkan alam. Alamlah yang akan memutuskan kita sebagai sahabat untuk menikmati indahnya dan menyenangkat hari kita agar kita selalu tersenyum. Karena itulah cara alam untuk menggugah hati kita untuk peduli.

Desember 2002

4 Comments:

Anonymous Anonymous said...

NSU - 4ever, 5210 - rulez
mudila
mudila

1:14 PM  
Blogger Raiya said...

saya senang membaca catatan perjalanan seperti ini, apalagi sebuah pendakian. wow!

saya setuju tuh alam sebagai sahabat... :)

5:34 PM  
Blogger havsa said...

cerita anda sangat menarik. saya pun salut kepada tim anda ya......... mendaki saat hujan menurut saya berbahaya karena medan licin apalagi dalam keadaan berpuasa.... hebat sekali..

Ditunggu cerita yang lain dan yang lebih menarik serta menantang.

9:48 AM  
Anonymous Anonymous said...

A helicopter flew her to the [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]Hogan Sito Ufficiale[/url]
hospital, where surgeons removed a natural part of [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]scarpe Hogan outlet[/url]
her skull to relief the anxiety from her swelling brain and purge the clot. Meg has been due last Boston in a very [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]Hogan scarpe[/url]
few days. She'd sent ahead first Mothering sunday bouquet of [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]Hogan Sito Ufficiale[/url]
lilies. tulips and roses. promising a [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]Hogan Sito Ufficiale[/url]
celebration when she got home.
Soto | Mar 15th 2013 - Compare carefully both of these eye gadgets. You are doing if you are contemplating to exchange glasses with lens. Find out more about every one of the possible points of [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]Hogan Sito Ufficiale[/url]
comparison in advance of making a http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm
choice. The [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]scarpe Hogan[/url]
planes On this Thursday, Jan. 10, 2013 photo, retired Col. Dan "Dante" Bulli poses to have a [url=http://www.bocachicaplaya.com/hogansitoufficiale.htm]scarpe Hogan[/url]
photo at his home in Omaha, Neb.

4:21 PM  

Post a Comment

<< Home